Anugerah dan Do'a

Demi Cita,
yang berkiblatkan Fitratallah,
dan demi Cinta,
yang kan subur dengan siraman mawaddah
dengan mauMu ya Rabbul Izzati
hati pun membulatkan tekad
tuk menyatu segala doa dan harap
lalu, waktu pun berhenti
di tengah kekalutan mencari makna
mimpi yang sebelumnya tak pernah datang
dalam jagaku maupun tidurku
di antara ruang yang paling sempit
dan di antara hal-hal yang paling rumit
mencelah satu rasa yang tak terbanding
walau hati dan kudrat merasa belum kuat
entah dari mana anugerah tak ternilai ini
bisa kuraih
relakanlah
semua kekurangan yang membuat resah
dan semua kelebihan yang belum terbaca
karna seribu doa yang mengiringi permulaan ini
pasti kan menyatu dua hati
yang selama ini terlalu biasa berjuang sendiri
Demi Cita,
yang akur dengan ketetapan,
dan demi Cinta,
yang tumbuh subur dengan kesabaran
Segala do'a kami satukan
Dengan mauMu ya Rabb,
Semoga diperkenan.
Amin.
f14, Sept 10, 2011
Tetingkap Sunyi
wahai
tetingkap sunyi
tiada bercerita penglipur lara
jemukah gerangan?
sesawang meraja
melingkar kekisi rapuh
bebas dan tak berguna
malaskah sudah?
ada sebuah lemari kaca
tak berkunci
tertumpuk cerita tak terkisahkan
hanya warna-warna debu berserakan
sungguh,
segini lamakah ditinggalkan?
paksa,
selakkan daun jendela itu
biar tembus cahaya menyilau
membawa aroma baru yang menyegarkan
kan kembali merdu dilagukan!
f14, KD, 10.52PM
Pengganti
This poem is a special tribute to Allahyarhamah Obek Nasiah binti Adnan (12 Sept 09) and Allahyarham Obek Shahrir bin Adnan (19 Oct 09)
Dalam kebasahan
Desir angin sendu mengundang gerimis malam
Mengiringi sebuah perjalanan terasing
Ke taman abadi..
Dalam kedinginan
Hati membeku melawan sedu
Tingkah dipacu gagah
Senyum dipaksa ramah
Karna tangan menggenggam erat selaksa tirakat
Mewaris amanah yang tertinggalkan
Ini permainan realiti
Bila yang pergi tak kembali
Yang tinggal tak henti menabur budi
Tapi jiwa?
Kadang sulit tuk mengerti
Padahal siang dan malam pun
tak pernah bosan menyusun hari
Justru itu,
Yang patah, harus tumbuh
Yang hilang, harus berganti!
Jejak Furqan



Justru ingin bertanya jawab, pada saksi-saksi yang tak pernah buta dan tuli, tapi selalu bisu itu. Adakah berguna sebuah sejarah kekalahan pada seorang pejuang yang miskin (jiwa)? Seberapakah kudrat yang ada untuk mengkambus awan hitam yang menari-nari di balik tembok pemisah antara haq dan kebathilan? Ternyata jawabnya ada dalam setiap hela nafas yang menghembus, silih berganti antara malam dan siang, antara kalah dan menang.

Sang pemuja berlari kencang mengejar dan dikejar oleh pemasung waktu dan cita yang tertinggalkan. Hingga jejak kembali ia ke taman ini, tempat mula percobaan dan tantangan, penguji iman dan amal. Siapkah ia menapak jalan semula, sedang bekal diberi ibu hanya seberkas pelajaran dari sebuah sejarah kegagalan...?

p.s. nyum nyum, banana split (of Dairy King, Selera Putrajaya Food Court) is one good ending for this poem :-)
Selimuti Aku

selimuti aku
aku kedinginan
dakaplah hatiku
gigilku tak tertahan...
kesandung dalam gejolak emosi tak bertepian
nyasar dalam lara jiwa nan terbakar
parah tertusuk kalbu yang paling dalam
gigil... menggigil terus tak tertahankan
rentan jiwa yang belum pernah terasakan
dinding kamar bisu jadi saksi kujur tubuh kaku..
lebih kaku dari batu
hati mendingin, darah membeku
akankah terhenti jantungku?
pun gugurlah deras air dari sang mata
lebih deras lagi detak jantung dalam dada
takutnya menghadap sang Pencipta Hukum :-(
takutnya tak kuat melafaz ampun!
-----------//-----------
bingar burung-burung bernyanyi
riang dan ramai
mampu juga menggamit walau tawar
senyum di bibir melawan ketar
ibu-ibu burung dengan air di tangan
siap meredam panas hati yang tercalar
pun ia bangun dan siap melangkah walau gontai
menghadap itu yang namanya kenyataan
-----------//-----------
matinya satu mimpi
matilah satu pelangi
akankah muncul mimpi itu lagi
bila mati setengah hati?~
.................................................................................//
- - Tragedi 20 Jun 2009; nukilan f14-220609
Sidang Para Tani
Persis sebilah kapak di tangan Algojo
Sinarnya tajam penuh ancaman
Siap memotong waktu yang cuma tinggal dua jam
Dalam kamar terang, hingar tapi muram
Ampun Pak Kiyai, ku dulukan tanyaApalah guna kebun di tepi sawah
Ditanami segala macam pepohonan
Tempat burung-burung saling bergantian
Menunggu musim yang belum juga mau menjelang
Pak tani optimis mulai lelah
Mengartikan budinya dalam resah
Tanah subur dibajai
Air cukup membasahi
Tangan tak henti menabur budi
Pada kebun impian segala ukhti
Tapi,
Kenapa buahnya belum juga mau menjadi?

Wahai..
Salam pada semua anak tani,
Dengarkan bapakmu ini mau berperi!
Mana santun mu,
Kalau senyummu itu manis kelat?
Mana susila mu,
Kalau tuturmu sungkan-sungkanan?
Sadarlah...
Walau kau pohonkan segala sakti
Tiadalah bukti segala bakti
Pada hati yang akan mati
Sudah terang lagi bersuluh
Ikhlas budimu tersalah arti
Benarlah kata-kata Imam Ghazali,
Tak sebanding budi sang semut hitam,
Dalam kamar gelap gulita, di atas batu hitam.

Luruskan kembali ikhlas hatimu
Hanya, dan semata-mata hanya, untuk Dia yang satu
Dan bukan karna sesuatu di luar,
dan yang akan keluar dari kebunmu!
...
Sidang petani bubar,
Bunyi suling pilu menggetar....!
(#f14/220509 10:00)
Bila Langkah Terarah Lagi

Kalau dulu ku titipkan seloka luka
Kini ku lambaikan senyum bahagia
Mengiringi rentak tari pahlawan
Tika langkah mulai memisah
Tapi rentak hati kita
Terpalu oleh gegar yang menghambat
Mengisi raksa dalam setiap relung jiwa
Menutup ruang hati dari menduka lara
Ingatlah ...
Di pentas mana pun kita menari
Tari kita tari asli
Asli nya tari gentayangan
Bijaklah mengatur budi
Mimpi kita bukan hanya angan-angan
Atas nama cobaan yang mematangkan
Kita berdiri lebih tinggi dari kalangan
Atas nama cinta yang menghangatkan
Kita siap lebur lagi dalam kedinginan
Bukankah ini satu kemaslahatan
Menyatulah wahai hati-hati yang tenang
Sertakan ruku’mu dengan keta’atan
Sembahkan sujud mu dalam barisan
Artikan syukurmu dengan keikhlasan
Relakan badai menggoncang
Biarkan anjing menggonggong
Toh yang mereka ada cuma omong kosong
Tari kita tetap lincah
Walau kita tak lagi dekat
Hati kita tetap melekat
Melabuh amanah di lain muara
Menyambung gerak tari di pentas dunia
Dulu ku titipkan seloka luka
Kini ku lambaikan senyum bahagia
Bila langkah terarah lagi
Itulah tanda pentas kita lebih tinggi..
Raja dihilir tongkatnya sakti
Sakti berasal dari kayangan
Memacu gerak perwira bakti
Memasung waktu buat tantangan
Salam disambut kuhulur tangan
Tanda ikatan tak pernah renggang
Sandarkan indah pada kenangan
Sampai ketemu di lain gelanggang
(#fia)
Harapan Ungu III
no more indigo
no more purple
only RED striving
to get out of the Blue
RED is blooming and winning
RED is hoping and longing
for its next challenge awaiting
datangkanlah dugaan itu
kalau memang itu untukku
tapi jangan sesatkan aku
seperti Kau sesatkan dia
tika kami sama berlari
menuju jalan mencari redhoMu
Kuatkanlah!
(Related: Harapan Ungu II, Harapan Ungu I)
Dendangan Lagu Jiwa
Dendang berdendang berlagu jiwa
Jiwa disantun melakar hati
Dendang berdendang berlagu hidup
Hidup disantun melakar hari
Turun ke mari bulan turunlah
Turun ke mari bersama awan
Hidup kembali hati hiduplah
Hidup kembali langkah pahlawan
Kain merah dari Melaka
Kain selendang orang lah lama
Hati berdarah terguris luka
Hati mati dua hari lah cuma
Usah dikejar bunga melati
Carilah ia di taman ini
Usah lah gentar sakit dan mati
Itulah janji hati berani
Langkahmu itu tak tuntas lagi
Ayunkan kakimu terus menari
Jalanmu itu tak jauh lagi
Kebalkan tubuhmu sambung berbakti
>> f14, 060808, 10.30am
buat Bapak
andai saja aku besi
pastilah aku tiangmu yang terkuat
kalau saja aku lelaki
akulah pahlawanmu yang terhebat
kau buka jalan untuk ku rentas
kau bajai ku dgn ilmu manfaat
biarkan guruku itu pengalaman
mengartikan girang dalam tangis
merasakan takut dalam aman
pasti tunas aqalku tumbuh jua
menginjak tangga-tangga dewasa
satu persatu walau dengan payah
aku masih dalam pendakian Pak
relakanlah.
Harapan Ungu II

menggapai bayangan sekilas
ternyata mengukir hampa
saat tersayat alunan mimpi
rasakanlah degupan
ungu yang mengharap
f14/160608/2:07AM
(Harapan Ungu I)
Interlude

Dalam meniti jambatan waktu
Ada kala kesandung batu
Prinsip adalah mata yang mengawas
Semangat adalah kaki yang memacu
Boleh saja terjatuh di suatu saat
Namun akan tetap kembali bangun
Getaran jiwa
Saat dilantunkan ayatullah
Pedih tamparannya terasa menghujam
Tapi sejuk mengisi ruang terdalam
Haruskah terbiasa dalam sendirian
Karna kita tak akan selamanya berdampingan
Suatu saat pasti menghilang
Dalam meredah belantara angan
Pasti lewat denai berduri
Tapi kalau terlalu memikir ke depan
Jalan kita pendek, kata sang jauhari
Tetap lah dalam jalanmu
Siapa tau, di ujung sana kita bertemu?
by f14/280408/11AM
Harapan Ungu
tersambut oleh lembayung merah hati
menyatu dalam ruang harap
menjadi ungu
itu inginku
Pesona Kata
acungan cerita
terbaca dengan penuh perhatian
terkagum bicara santai penuh makna
terasa ikhlas jujur dari dalam dada
membuatku terpikir
akan sejatinya manusia
hamba yang tercipta paling unik
penuh variasi perangai dan kelakuan
berbagai olah dan tujuan
bedanya cuma cara dan prinsip yang terpakai
kuasa bahasa bukan mainan
media penghubung sesama insan
qalam dan kitab tetap saling bertautan
itulah senjata terampuh sepanjang zaman
kata-kata
harus tergubah dengan bijak
harus terukir dengan tulus
harus tersulam dengan indah
agar yang tersimpan paling dalam
dimengerti segala maksud dan tujuan
kata-kata
adalah titik mula, sebuah perjuangan ...
by f14/150408/9AM
Bertahanlah...
di satu perhentian
hati ini mengaduh
lelah terulit mimpi
hadap yang tak pasti
di suatu saat bergairah
menyulam cita
menganyam rasa
memintal tali ukhuwah
menggulung suara
mengalir dalam dada
hadaplah apa saja tantangan
pelajari setiap kekalahan
pasrahkan tiap ingin yang tersasar
relakan setiap kepergian
karna itu sejatinya perjuangan
susah dulu senang kemudian
biar putih tulang
putih di mata jangan
do'aku... bertahanlah...
by f14/110408/7:26AM
Manisnya Sebuah Perjuangan

Manisnya sebuah perjuangan
Bukan di kala sukses di akhir perjalanan
Bukan di kala menang dalam keramaian
Tapi bila butuh senyum di tengah kedukaan
Dan bila merasa untung di saat kerugian
Manisnya perjuangan
Bukan cuma menghitung berapa banyak yang terdapatkan
Tapi juga mengenang berapa banyak yang tertinggalkan
Dan berapa keinginan yang telah terkorbankan
Manisnya perjuangan
Bila kita punya kuasa untuk menghargai
Setiap langkah yang telah tertangani
Atas satu harapan yang telah teryakini
Akan bertemu Mu di akhir perjalanan nanti
Manisnya perjuangan
Bila saat ini aku siap menanti
Kedatangan tantangan Mu lagi
Walau sesulit apa pun pasti
Do'aku, semoga aku tetap berdiri...
Perjuangan ..
Bukan lah satu titik destinasi
Tapi satu perjalanan yang tak tertandingi
Dan nanti, bila aku siap untuk kembali
Di saat semua orang akan mengerti
Pengorbananku ... hanyalah untuk Dia yang abadi.
by f14/270308/9:06am
Selarikan Ingin Ku

Bismillahirrahmaanirrahim
Tunjang kalimat jadi paksi arah ku
Telah datang menuntut janji pada ku
Saat hati menyaksi sempurna indah horizon biru
Saat hati tersentuh belaian sedingin salju
Saat hati tertunggu-tunggu
Saat hati terpimpin keliru
Aku .. bisu
Inginku jadi bulan
Temani langit malam puas-puas
Sambut gemerlap bintang dengan rasa bebas
Bercerita kisah-kisah ku
Tersingkap merah, kelabu, kuning dan biru
Aku .. lugu
Tapi ingin Mu
Agar aku bisa jadi pohon
Pohon yang bukan sembarangan tumbuh
Atas tanah kontang ia kering, keras, teguh
Atas tanah basah ia rendang, subur, tak rapuh
Aku .. mampu
Dengan nama Mu
Yang Maha Pemurah
Yang Maha Penyayang
Ku mohon pertolongan
Selarikan inginku dan ingin Mu
Menjadi .. satu
by f14/240308/11.16am
Suatu Saat Keliru Prinsip
![]()
dulu .. tekun
sekarang .. malas
dulu .. inspired![]()
sekarang .. bosan
dulu .. takut
skrg .. berani
dulu .. tak pernah
sekarang .. sering
dulu .. tak tau
dulu .. bodoh
sekarang .. dah tau
tapi .. malah lebih bodoh
dulu .. aku begitu ..
kenapa skrg malah begini ? ?
by f14/220308/9.13pm
Cita-cita Pak Tani di Pulau Perawan

sosok tubuh tua di batas sawah
duduk sebentar melepaskan lelah
di bumi pusaka yang masih basah
keringat tua petani setia
berbudi pada tanah tinggalan moyang
berjasa pada anak generasi depan
namun ada yang jadi pikiran
pak tani bimbang warisannya tak kekal
anak-anak muda malas mau menanam
bukan kah ini yang mereka makan?
sejak dari kecil hingga kuliahan
apalah guna anaknya pintar
kalau tak bisa pun tuk mengenal
ekonomi terampuh sepanjang zaman
asalnya datang dari pertanian
di pulau perawan ini
hamparan menguning sawah dan bendang
aturan kebun sedia rapi terbentang
menagih tenaga muda untuk diolahkan
tenaga yang inovatif dan konstruktif
tenaga yang nanti bisa membuahkan
insan-insan budiman sebagai modal
bukan pemimpin korup
yang tak pernah cukup kepuasan material
salam buat anaknya di kejauhan
pak tani sudah tetapkan pendirian
bukannya dia tak mau pembangunan materi
tapi binalah dulu pembangunan insani
agar nanti terdidik bangsa amanah dan harmoni
mencukupi semua peran masyarakat madani
insan berbudi modal termahal
tak akan datang tanpa pengorbanan
sebuah negara dijanjikan aman
sebuah pulau akan tetap perawan
sampai nanti bila bertemu Tuhan
masing-masing punya penjelasan
hablum minallah wa hablum minan naas
akan terjawab.. dengan tuntas....
> by f14/050308 1.35pm<
Sesalan Seorang Egois Buta
Dalam satu pengabdian
Seorang musafir terhenti di perjalanan
Atas tanah kontang tak berhutan
Terduduk kaku, bingung memikirkan
Apakah penyebab lemahnya badan
Sampai terasa berat untuk melanjutkan
Walau sudah sejauh ini tertempa perjalanan
Melangit tinggi yang dicitakan
Luas lautan dilayarkan harapan
Dengan penuh semangat dikobarkan
Niat dijulang tak kenal sempadan
Tapi sang musafir lupa dirinya buta
Menganggar langit setinggi atap
Membayang laut cuma seluas muara
Maka dibawalah bekal secangkir beras
Ya, cuma secangkir beras
Menempuh perjalanan yang sangat panjang
Tau-tau kandas di tengah jalan
Badannya kurus tak cukup makan
Musafir buta terlalu optimis
Mau meminta takut disangka pengemis
Sampai bekalnya digunakan hampir habis
Walau sedih dia tak mau menangis
Tak sadar kalau dirinya itu egois
Keangkuhan memakan diri
Hatinya kini direnggut sepi
Lalu hanyut terbuai indahnya pelangi
Yang cuma datang kala dibias mentari
Namun sekali lagi dirinya lupa
Matanya buta tak melihat
Pelangi disangka cahaya putih abadi
Yang menerangi jalannya ke destinasi
Walau dalam hati musafir penuh cinta
Namun tak bisa kenal biasan warna
Warna yang bukan cuma satu, tapi tujuh semuanya
Warna yang akan hilang sekelip mata
Bila titis air berhenti membias cahaya
Kini musafir tau dirinya keletihan
Terasa olehnya berat menyambung peranan
Tak sekuat semangat yang dulu dilontarkan
Karna dalam hatinya tercoreng keingkaran
Yang rakus menggoncang keimanan
Terkikis dalam perjalanan yang serba kekurangan
Apakah ini sesalan?
Adakah lagi pengampunan?
Adakah lagi harapan menantinya di depan?
Tidak, tak boleh terkalahkan
Karna hutangnya masih banyak tak terjelaskan
Sampai mati pun tetap menuntut air mata dan darah
Dengan tangis hatinya dia teruskan langkah
Sesalan seorang egois buta.. mengundang pasrah...!
by f14/120308 @ 6.30pm